Selasa, 05 Januari 2010

cerpen

Ganteng Ganteng Kok Norak…

Rentetan buku di perpustakaan menjadi pandangan yang cukup akrab untuk seorang mahasiswi Ekonomi Manajemen Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang akhir – akhir ini selalu menyibukkan dirinya di tempat tersebut untuk mencari buku referensi sebagai bahan skripsinya. Hari itu Mandy dan teman seangkatannya, Ana, sedang sibuk mencari buku yang memang sulit untuk mendapatkannya karena buku itu merupakan buku yang laris dipinjam anak – anak jurusan Ekonomi Manajemen.

“Duuh.. harus cari buku itu dimana lagi sih Na?” keluh Mandy.

“Ya sabar dong Dy.. Coba aja tanya ke petugasnya.” Ana memberi saran.

Ana mandekati meja penjaga yang terletak tepat di sebelah pintu masuk, dan disitu duduk seorang lelaki berparas cukup tampan, putih, dan berkacamata yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya.

“Mas, mau tanya kalo buku ‘Teori Ekonomi’ karangan Hanoch Mc Cartny ada gak?” tanya Mandy.

“Oh..! Sebentar saya bantu carikan.” jawab lelaki penjaga itu dengan ramah.

Ana yang lebih sering mengunjungi perpustakaan dan lebih mengenal penjaga perpus yang biasa dipanggil Mas Arby oleh para mahasiswa tersebut melalui cerita – cerita dari orang lain, merasa heran dan langsung menggerutu di belakang Arby.

“Eh, Dy! Tumben banget tuh Mas Arby mau bantuin mahasiswa yang lagi kesusahan nyari buku. Biasanya kan kalo kita minta bantuan dia, malah dicuekin. Gak kaya biasanya deh!”

Memang aneh. Karena Arby dikenal sebagai sosok yang dingin, tidak ramah, dan jarang sekali terlihat bersama - sama dengan teman – teman seangkatannya., bahkan mungkin dia tidak mempunyai teman apalagi teman perempuan. Mandy yang tidak menyadari keanehan hal itu menanggapi omongan Ana dengan sambil lalu.

“Habis dapet duit kali. Jadi bawaannya seneng mulu! Hi..hi..”

Namun anehnya, perubahan yang terjadi pada Arby itu hanya dirasakan oleh mereka berdua terutama Mandy. Setiap Mandy berkunjung ke perpus, Arby selalu dengan ramah menyapanya dan membantu mencarikan buku yang Mandy perlukan. Bahkan, terkadang juga membantu Mandy menyelesaikan skripsinya, karena Arby juga seorang asisten dosen di fakultas yang sama. Dan tidak hanya itu, Arby pun sudah mulai melakukan pendekatan, seperti menelepon Mandy dengan rutin kaya minum obat tiga kali sehari dan masih banyak lagi tanpa memperdulikan bahwa Mandy sudah memiliki kekasih bernama Fedi yang tinggal di luar kota.

Awalnya, Mandy menganggap bahwa semua yang dilakukan Arby hanya usahanya untuk dapat berteman dengannya. Namun, makin lama Arby makin agresif. Arby mulai mengajak Mandy kencan. Seperti yang terjadi pada malam ini. Mandy menerima ajakan Arby dengan terpaksa sebagai ucapan terima kasih karena selama ini telah membantunya dalam mengerjakan tugas kuliah dan skripsinya.

“Malam Bu, ada Mandy?” tanya Arby pada ibu kost yang membukakan pintu.

“Oh, nak Mandy? Ada kok! Sebentar ya..”jawab ibu kost sambil dengan seksama memperhatikan pemuda yang berdiri di depannya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Malam ini, Arby memakai pakaian yang sangat mengundang perhatian anak - anak satu kost, terlebih Mandy. Arby datang dengan dandanan rambut klimis belah pinggir, celana panjang hitam sedikit cut bray, dan yang lebih mengejutkan lagi dia mengenakan baju batik Yogya yang biasa dipakai para anggota DPR jika sedang dinas, ditambah lagi wangi parfum melati yang cukup membuat Mandy hampir muntah karenanya.

Mandy yang sudah berdandan cantik layaknya kalau dia pergi kencan dengan Fedi, langsung terkejut melihat cowok dengan dandanan seperti bapak – bapak yang sedang duduk di kursi ruang tamu dan sekarang sedang tersenyum padanya. Di benak Mandy langsung tersirat niat untuk membatalkan rencananya pergi malam itu, karena ‘apa kata orang kalo ngeliat Mandy yang cantik jalan sama orang kaya gitu??’ nanti dikiranya Mandy demen sama om – om lagi! Tapi, akhirnya Mandy mengurungkan niat tersebut semata – mata karena tidak tega.

“Halo.. Kamu cantik banget..” sapa Arby sangat kaku. Mungkin karena sebelumnya dia tidak pernah berkencan apalagi memuji perempuan seperti barusan.

“Kamu kok dandanannya santai banget?” tanya Arby kepada Mandy yang saat itu hanya mengenakan jins dan blus pink.

“Tapi nggak apa deh..” lanjut Arby.

Mandy selalu menanggapi omongan Arby dengan dingin yang maksudnya agar Arby tahu bahwa Mandy sangat terganggu dengan dandanannya. Mereka berangkat dengan motor dan sesampainya di tempat tujuan…

“Lho..! Kok kita berhenti disini?” tanya Mandy sambil melihat keadaan sekelilingnya yang ramai dan terlihat di kejauhan panggung organ tunggal yang diisi dengan nyanyian campur sari.

“Oh! Iya..! Aku lupa ngasih tahu kamu, kalo sebenarnya malam ini aku mau ngajak kamu buat nemenin aku ke hajatan dosenku..” jawab Arby.

Mendengar itu, Mandy kaget setengah mati dan langsung terpaku di hadapan meja pager ayu.

“Kok kamu malah diem disitu?” tegur Arby.

“Kok kamu ngajak aku kesini sih? Bukannya kita mau jalan – jalan?” tanya Mandy.

“Jalan – jalan? Ngapain? Buang – buang duit aja. Mendingan kita kesini kan bisa makan gratis..!” timbal Arby.

Mandy sangat kaget mendengar jawaban Arby. Memang, Arby adalah orang yang sangat hemat. Ia jarang sekali terlihat di kantin. Tapi, kalo mau makan aja kudu ke kondangan sih namanya udah pelit. Mandy terpaksa masuk dan ikut makan di sebelah Arby karena perutnya sudah dangdutan dari tadi. Setelah makan mereka tidak langsung pulang melainkan Mandy harus dibuat kesal dengan menghilangnya Arby saat mereka mengucapkan selamat pada pengantin dan betapa terkejutnya Mandy saat melihat Arby sedang berjoget mengikuti irama campur sari di atas panggung. Baru Mandy sadari ternyata Arby bukan hanya pelit tapi juga norak!!

“Ih... nyebelin banget!! Nggak lagi deh jalan sama dia!!” gerutu Mandy. Dan ia terpaksa menunggu sampai Arby puas berjoget. Dan setelah Arby turun dari panggung, Mandy langsung pasang muka jutek dan sayangnya Arby tidak menyadarinya. Dan saat di parkiran motor…

“Lho kok motornya nggak dinyalain?” tanya Mandy.

“Kita pulang jalan kaki aja ya.. soalnya biar hemat. Kan bensin sekarang mahal.” jawab Arby yang membuat kekesalan Mandy memuncak.

‘Gila aja!! Tempat kondangan ama kost kan jauh banget!!’ gerutu Mandy dalam hati. Dan tanpa pikir panjang, Mandy langsung kabur dari hadapan Arby dan langsung menghadang angkutan umum yang melintas di depannya tanpa memperdulikan Arby yang berusaha mengejar di belakangnya.

Mandy langsung berniat untuk melupakan kejadian malam ini dan sekaligus melupakan cowok yang udah bikin tensi darahnya naik. Keesokan harinya, Arby mendatangi kost Mandy.

Ketukan pintu Arby membuat Mandy terbangun. Saat itu jam 10 pagi dan Mandy tidak ada jadwal kuliah pagi. Ketukan Arby semakin keras ketika dia melihat Mandy yang masih tertidur. Dan sesaat kemudian, Mandy terbangun karenanya. Melihat Mandy terbangun, ketakutan Arby terhadap perempuan itu seketika muncul kembali dan menimbulkan inisiatif di kepalanya untuk bersembunyi di balik sofa yang ada tepat di depan kamar Mandy dan tidak menemui Mandy. Dari balik sofa, Arby mengintai Mandy yang sedang kebingungan mencari makhluk yang telah mengganggu mimpi indahnya.

“Duuh.. siapa sih yang ngetok pintu??” ucap Mandy sendiri.

Setelah dia yakin tidak ada siapapun disana, Mandy memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya kembali.

“Dy.. buka pintu! Aku mau minta maaf soal tadi malem. Please bukain..” pinta Arby.

“Oh, God!! Dia lagi!” ucap Mandy di dalam kamarnya.

Muncul sebuah ide di otak Mandy. Dia bergegas meraih handphone dan mengirim pesan kepada teman sebelah kamarnya.

Sent to: 085224232xxx

Mba, tolong bilangin ke cowo di depan kamar aku, aku gak ada. Thank’s..

“Mas, Mandy nya lagi kuliah tuh..” ucap teman sebelah kamar Mandy.

“Enggak kok mba! Mandy ada. Tadi saya liat dia buka pintu.” jawab Arby polos. “Tapi saya ngumpet!”

“Ya udah salah sendiri!”

Arby akhirnya memutuskan untuk menulis surat yang ia selipkan melalui celah bawah pintu kamar Mandy. Tanpa membacanya dulu, Mandy mengembalikan surat itu keluar. Arby akhirnya menyerah dan pulang.

Hari – hari berikutnya, Mandy tidak pernah datang lagi ke perpus. Arby di lain pihak, masih mencoba untuk menghubungi Mandy. Namun, tak pernah dapat tanggapan dari Mandy. Hingga akhirnya di siang bolong seperti ini, Arby nekat bertindak.

Di kantin kampus, Arby berdiri diatas kursi sambil membawa toa.

“Mandyyyyyyyyy, saya tahu kamu bias denger saya dari sini. Saya minta maaf Mandyyyyyy!!!!” Arby teriak.

Semua mahasiswa yang berjarak 500 meter dari tempat Arby berada kontan langsung lari ke kantin karena penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan Arbby benar, Mandy memang ada di dekat situ.

“Mandyyy, saya mohon maafkan saya. Saya tidak akan berhenti melakukan hal ini kalo kamu ndak kesini dan bilang kalo kamu maapin saya.”

Di tempat lain Mandy bergumam, “Bodo amat, lo yang malu bukan gue. Grrrrr, ganteng – ganteng kok norak.”

Fin.

review movie MR AND MRS SMITH

Movie Review

Mr & Mrs Smith

Title : Mr & Mrs Smith

Genre : Action, Romance, Thriller, Adventure

Director : Doug Liman

Writer : Simon Kinberg, Jez Butterworth, John Henry Butterworth

Time Release : June, 10th 2005 (USA)

Duration : 120 minutes

Stars : Brad Pitt. Angelina Jolie, Adam Brody

Mr & Mrs Smith is a movie directed by Doug Liman and produced by 20th Century Fox. The genre is a mixing about action, romance, thriller, and adventure. The writers are Simon Kinberg, Jez Butterworth, and John Henry Butterworth. It first released in United State of America on June, 10th 2005. Its duration is 120 minutes. The main stars of this movie are Brad Pitt as John Smith and Angelina Jolie as Jane Smith. This movie was being a huge hit in all around the world.

Actually, this movie tells about a marriage couple, John Smith (Brad Pitt) and Jane Smith (Angelina Jolie). They seemed like a happy couple with a luxurious house and cars, but when we look deeper, they had a big problem. They were living a lie! They lied each other from the first time they met. Although they met in an accidentally meeting, they could do nothing because the cupid had been arrowed its archery exactly at their heart. This physically harmonious couple was in love. They only need a month to get into a marriage bond. Their problem was not already stopping instead; a marriage is a new step in life that is very unpredictable. Who knew, a couple that has been live together could be living in a lie from the first for six years? John and Jane were very clever to hide their true shape as the best one of contract killers for rival agencies, who had the same job in that time, that to kill the same target who is starred by Adam Brody. In short period of time, John and Jane knew their secret identity and tried to attack each other. They made their war in their own castle of marriage. The whole world stopped immediately but they still shined in the bombastic of war they’ve made. No one was won. They convinced to save their marriage and get together to finish their ‘dark’ job.

Great! Two thumbs up for this movie. The first time I watched this movie, it felt like holy water washed over my eyes. Liman as the director made a good blending for this movie. In some serious scenes like when John and Jane were have a consultation with their marriage consultant, Liman made it into some joke with a little bit America’s sarcasm. Another scene that I love best is when they were having a war in their own house. They attacked each other with guns and bombs in their hands and those all were over up but Liman could mix it with joke, so we could feel the humanity still. Mr & Mrs Smith reminds us somewhat of War of the Roses, both of them took home as war field between a marriage couple. The most interesting is Liman’s way to show hate and love feelings between John and Jane with a unique twist that make the viewer’s heart beat faster, get into, and even passionate. Those just came spilling out. Angelina Jolie is sexy and Brad Pitt is cool. They could take the viewers high and touched the sky. Their chemical reaction turn around the screen, make viewers believed that they were really had both taking sides’ feelings. Sometimes they looked very romantic and harmonious but in other time they could be so selfish and ruined each other like a usual marriage couple. Although they were contract killers, Brad Pitt and Angelina Jolie could be looked so humanity as a marriage couple. Love between these Smith looked strong when in a quarrel they had a confession of faith and honest. One thing that Liman wanted to show to us is the truly of marriage. Behind of the whizzing sound of shot fired and the lunge of bomb, Liman tried to remember us, with an action movie’s special crude, which marriage should be defense; because these days marriage is only a symbol of unity of two persons who fall in love then bond in a legal institution. Even for some persons, marriage is a legalization status symbol in people.

Overall, this is an excellent movie. There is a lot of action. Lots of inside romances. The characters are well acted, too. You should watch this movie! It is very cool. Go to your nearest rental videos for you who have never been watch it! So, check it out and have fun.

DAN HUJAN PUN BERHENTI

Judul : dan Hujan pun Berhenti

Penulis : Farida Susanty

Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2007

Ukuran Buku : 13,8 cm x 20 cm

Tebal Buku : x + 321 halaman

Novel ini mengisahkan seorang anak muda bernama Leostrada Miyazao, korban broken home yang selalu menjadi biang kerok atas kekacauan di sekolah bersama geng-nya, The Bunch of Bastards. Kekerasan fisik dan mental yang dia terima dari kedua orangtuanya, kematian tragis sang pacar, konflik dengan teman se-geng, membuat hidupnya semakin hampa dan pada akhirnya ia tidak lagi mau mempercayai orang – orang terdekatnya dan menganggap semuanya penghianat. Suatu hari ia bertemu gadis bernama Spizaetus Caerina yang sedang menggantungkan teru teru bozu ( penangkal hujan khas Jepang). Spiza melakukan itu demi melaksanakan niat bunuh diri, sesuai tagline yang tertulis di cover novel. “Kamu mau bunuh diri?” “Ya, asal tidak hujan.” Seperti Leo, Spiza membenci hujan. Hujan mengingatkannya pada peristiwa yang teramat pahit di masa lalu. Kenangan buruk yang menghantuinya dalam mimpi dan membuatnya merasa tak mampu melanjutkan hidup. Persamaan tekanan batin membuat Leo dan Spiza dekat. Leo yang sinis dan membenci keluarganya sendiri ini menemukan pelabuhan yang teduh pada diri Spiza.

Farida Susanty sang penulis yang lahir di Bandung 18 Juni 1990. Ia menerbitkan novel perdananya ini pada saat ia masih menjadi siswa SMAN 3 Bandung kelas XII. Prestasi sastranya pernah masuk beberapa majalah, menang beberpa lomba cerpen universitas di Bandung. Esainya pernah masuk suplemen Belia, Pikiran Rakyat, mengikuti Coaching Cerpen KaWanku 2006, dan cerpennya menjadi juara pertama best three short stories Coaching Cerpen KaWanku 2006.

Novel ini sangat kental dengan pernak pernik Jepang. Mulai dari latar belakang keluarga konglomerat Miyazao, unsur budaya dalam teru teru bozu dan elemen adat masyarakat Jepang. Dalam beberapa situasi bahkan menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa tokoh utama percakapan dengan anggota keluarga. Semua hal ini memberi pembaca pengetahuan lebih tentang Jepang karena disediakan catatan – catatan kaki untuk menjelaskan maksud dari percakapan dengan bahasa Jepang.

Penulis menghadirkan beragam karakter yang tidak terpaku antara baik dan buruk. Seperti Tyo, musuh geng Leo, bahkan menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai teman. Atau bahkan kematian pacar Leo yang tragis justru menguak sebuah rahasia besar yang membuat Leo mengakhiri ratapannya dan mencoba untuk mensyukuri hidup.

Kesan gelap sangat menonjol dari novel ini, yang sudah terlihat dari cover yang berwarna hitam dan tagline yang membuat penasaran dengan kata – kata mendalam yaitu bunuh diri. Tidak hanya itu, kesan dark atau gelap juga terlihat dari jalan cerita dan karakter Leo yang keras. Penulis juga berani bermain dengan kata – kata kasar untuk novel bergenre teenlit. Seperti kata “darah” yang sering digambarkan dalam novel ini. Dan banyak bertaburan umpatan, caci maki, kekerasan, kemarahan, kedengkian, dan keputus asaan. Oleh karena itu, novel ini lebih tepat masuk ke genre chicklit dan tidak pantas untuk dibaca anak – anak remaja dibawah 16 tahun. Novel ini juga butuh keseriusan dalam membacanya. Pembaca dibawa menyelam ke kegelapan kehidupan sang tokoh yang membuat pembaca berdebar - debar. Tidak ada unsur santai dan rileks dalam membacanya. Oleh karena itu, novel ini sebaiknya tidak dibaca oleh Anda yang ingin mendapat hiburan dari menbaca sebuah novel.

Penasaran dengan “kegelapan” novel ini? Ingin tahu akhir kehidupan Leo? Apakah Spiza berhasil bunuh diri? Temukan jawabannya dalam “Dan Hujan pun Berhenti”.

resensi I LOVE ME

Judul : I Love Me; Gimana Jadi Remaja PD n’ Smart

Pengarang : Ron Herron dan Val J. Peter

Tahun trebit : 2004

Penerbit : Kaifa PT. Mizan Pustaka

Kota terbit : Bandung

Halaman : 184 halaman

I Love Me

Ada pepatah mengatakan “Don’t judge a book by its cover”. Itu juga berarti ita jangan menilai seseorang dari penampilan fisiknya saja. Tetapi, justru banyak sekali yang seperti itu. Bahkan, dirinya sendiri yang menilai bahwa penampilan fisik adalah segalanya. Padahal satu – satunya yang terpenting adalah apa yang terdapat dalam dirinya.

Novel yang ditujukan untuk remaja ini berisi informasi tentang bagaimana memusatkan diri kita pada kiat – kiat untuk mengembangkan citra diri. Kiat – kiat tersebut akan membantu para remaja membuat keputusan – keputusan jitu, memperkukuh perasaan positif mengenai diri sendiri, dan mengoptimalkan potensi diri. Dijelaskan pula bahwa ketegasan adalah suatu dunia yang terpisah jauh dari agresivitas. Dan salah satu belajar tegas adalah berani mengungkapkan pendapat. Pendapat – pendapat itu jadi tidak berharga bila tidak diungkapkan. Dan problema – problema social yang biasa terjadi pada diri remaja yang jiwanya masih labil dan dalam tahap kedewasaan adalah takut gagal. Hal ini mungkin terjadi karena orang – orang di sekeliling kita seperti orang tua, guru, teman, keluarga yang berharap lebih dengan tujuan yang baik. Tetapi, terkadang mereka punya pengharapan yang terlalu tinggi yang akhirnya menjadi tekanan bagi jiwa remaja tersebut. Begitu banyak orang kehilangan kesempatan di dunia yang indah ini karena mereka takut gagal. Mereka tidak akan pernah mampu memanfaatkan potensi karunia Allah kalau tidak berusaha mencoba melakukan sesuatu yang baru. Karena gagal adalah bagian dari hidup.

Penghargaan dan penghormatan diri pun diulas dalam buku ini. Pada dasarnya, kedua istilah tersebut bisa diringkas menjadi : Penghargaan diri menjawab pertanyaan “Bagaimana perasaanku terhadap diri sendiri?” dan “Bagaimana aku meniali diriku sendiri?” Adapun penghormatan diri menjawab pertanyaan “Apakah yang aku lakukan saat ini, membuat sebuah perbedaan positif pada dunia?” dan

“Apakah aku memberi atau sekedar mengambil?” Orang tidak akan menjadi bahagia kecuali bila mereka merasa bahwa hidup mereka bermakna. Dan berperilakulah baik, karena perilaku merupakan sebuah cermin tempat kita semua menampilkan citradiri kita.

Pergaulan adalah suatu yang dominant pada kehidupan remaja. Kalau kita punya banyak teman, rasanya dunia ini begitu lapang. Dengan bergaul, kita bisa mengenal berbagai karakter orang. Dan salah satu unsur utama persahabatan adalah rasa hormat. Menjelang dewasa ini, kita harus jauh lebih sadar akan nilai, moral, dan identitas pribadi. Semua pengalaman di masa remaja akan membantu membentuk “diri kita” yang dewasa. Salah satu yang menclok dari kehidupan remaja adalah perubahan emosional, intelektual, dan yang paling nyata adalah secara fisik. Remaja adalah masa transformasi paling menakjubkan; dimana mereka meninggalkan tubuh kanak – kanak dan bergerak ke arah kedewasaan. Selain itu, masalah remaja yang lain adalah orang tua. Masa remaja adalah suatu masa ketika anak – anak menolak untuk percaya bahwa suatu hari nanti mereka akan sama bodohnya dengan orang tua mereka. Dalam buku ini banyak dipaparkan cara – cara menghadapi masalah dengan orang tua. Jatuh cinta adalah masalah yang kompleks yang dialami remaja pada umumnya. Cinta sulit didefinisikan dan terlalu rumit untuk dijelaskan dengan gamblang.

Dalam buku yang mempunyai judul asli In the Mirror? Finding The Real Me ini mengulas habis semua masalah remaja dan membantupara remaja untuk menjawab pertanyaan “Who am I ?”. Buku karangan Ron Herron dan Val J. Peter yang berkebangsaan Negara Amerika ini amat cocok untuk dibaca para remaja maupun orang tua sebagai bahan renungan. Buku ini selain menjelaskan, Ron Herron dan Val J. Peter juga memberi contoh – contoh yang biasa terjadi pada kehidupan remaja dan juga solusi – solusi bagus yang mereka pparkan dalam buku mereka.

Bacaan yang sangat bermanfaat ini disajikan dalam bentuk yang pas dan ringan. Penulis cenderung memakai bhasa remaja yang gaul dan komunikatif. Ron Herron dan Val J. Peter juga banyak menambah kata – kata mutiara yang mereka ambil dari Ginger Snaps (1976) dan The Spice of Life (1971).

resensi sang pemimpi

hmm, saya punya hobby baca buku atau novel, pokoknya mah bacaan and now i will share you some books i've read. i hope it will be benefit for you :)

Judul : Sang Pemimpi Penulis : Andrea Hirata Penyunting : Imam Risdiyanto Penerbit : Bentang Pustaka Kota Terbit : Yogyakarta Tahun Terbit : 2008 Cetakan ke- : 20 Ukuran Buku : 13 cm x 20,5 cm Tebal Buku : x + 292 halaman Mimpi dan Masa Depan Novel non-fiksi yang berjudul Sang Pemimpi ini menceritakan tentang tiga anak kampung pedalaman Melayu. Mereka memiliki mimpi yang bagai punguk merindukan bulan, yaitu ingin melanjutkan sekolah hingga ke Prancis, menjelajahi Eropa, bahkan sampai ke Afrika. Tiga anak pemimpi itu adalah Ikal, Arai, dan Jimbron. Walau terdengar mustahil, anak – anak Melayu ini tidak peduli. Mereka memiliki tekad baja untuk mewujudkan mimpi mereka. Hidup di daerah terpencil, kemiskinan, dan kepahitan hidup tidak menjadi pantangan bagi mereka. Ikal, Arai, dan Jimbron memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi. Mereka bahu membahu untuk mewujudkan mimpi mereka. Andre Hirata, sang penulis, yang lahir di Belitong dalam berbagai interview tidak pernah ingin disebut penulis ataupun sastrawan. Walaupun buku – buku yang sudah ia tulis selalu menjadi best seller, ia selalu berkata bahwa tulisan – tulisannya hanyalah sebuah curahan hati yang ingin ia ceritakan. Sang Pemimpi adalah buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Buku ketiganya adalah Edensor. Ketiga buku yang sudah ramai terpampang di setiap toko buku ini berhasil meraih prdikat National Best Seller dan buku pertamanya yang berjudul Laskar Pelangi sudah difilmkan beberapa waktu lalu. Andrea Hirata juga seorang pemimpi, karena tokoh Ikal dalam novel ini tak lain dan tak bukan adalah Andrea Hirata sendiri. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Bagi pembaca, ada satu hal yang mengganjal mengenai novel ini. Yaitu, pada cover novel tertulis bahwa Sang Pemimpi adalah buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Kesan pertama yang ditangkap pembaca saat melihatnya adalah novel Sang Pemimpi ini merupakan lanjutan dari novel sebelumnya yang menceritakan tokoh Ikal bersama teman – teman SD-nya, pasukan Laskar Pelangi, namun dalam tema yang berbeda. Akan tetapi, pada kenyataannya novel Sang Pemimpi tidak mengulas tentang Laskar Pelangi. Kisah mengenai Laskar Pelangi hanya diceritakan sekali dan sekilas. Selain hal yang mengganjal diatas, secara keseluruhan novel ini hampir tidak ada cela. Ceritanya sangat menarik dan menggugah. Kalimat – kalimat yang dirangkai penulis begitu indah sehingga berhasil membawa pembacanya berkelana ke sudut – sudut kehidupan anak Melayu yang polos dan sederhana, namun memiliki kekuatan cinta, persahabatan, pengorbanan, dan tekad yang kuat. Dari segi bahasa penulis berhasil membuat pembaca berdecak kagum karena kata – kata yang dipilihnya berpendidikan, cenderung sains tetapi berseni tinggi, namun mudah dimengerti. Pesan yang penulis sampaikan melalui rangkaian kata – kata dan kalimat pun berhasil sampai ke hati pembaca. Pembaca disadarkan bahwa kemiskinan dan berbagai hambatan lain yang mempersulit cita – cita seseorang bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi karena mimpi adalah gambaran dari masa depan seseorang. Jika seseorang tidak memiliki mimpi sungguh merugi orang itu. Novel ini terbagi menjadi 18 bagian atau bab dan di setiap bab itu terdapat hal – hal menarik yang dialami tokoh – tokohnya. Salah satu hal menarik yang disukai pembaca terdapat pada bab “Baju Safari Ayahku” yang menceritakan bagaimana ayah Ikal yang pendiam, namun begitu sayang pada Ikal dan Arai. Halite terbukti ketika ayah Ikal harus menempuh jarak 30km dengan sepeda untuk mengambil rapor Ikal dan Arai. Ayah Ikal harus bangun pagi – pagi sekali untuk mempersiapkan dirinya di hari pembagian rapor itu. Beliau mengenakan baju Safari empat saku yang hanya beliau pakai khusus untuk acara ini, yang telah disetrika dan diberi wangi – wangian pandan. Bagi beliau hari itu adalah hari bersejarah dalam hidupnya. Penasaran dengan hal – hal menarik lainnya? Berhasilkah Ikal, Arai, dan Jimbron mewujudkan mimpi mereka untuk menginjakkan kaki di Universitas Sorbonne, Prancis? Temukan jawabannya dalam “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata.